Mengungkap
kehidupan Nabi dalam Islam adalah pekerjaan yang cukup luas, seorang dapat menulis buku
berjilid jilid yang dapat disajikan bagi kalangan yang berminat. Tujuan dalam
bagian buku ini sedikit lain.
Dalam bab-bab berikut kita akan mengupas beberapa
nabi dari kalangan Israel, termasuk Nabi Isa dan kita hendak mengungkap sikap
oposisi orang-orang Israel dan penyelewengan yang begitu cepat terhadap ajaran
ketuhanan. Di sini, dalam melihat kembali jalan yang telah ditempuh oleh penulis
lain, saya sekadar memaparkan uraian singkat guna melengkapi referensi tentang
Nabi Musa dan Nabi Isa.
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa `Abdullah, ayah Muhammad,
wafat saat Amina sedang hamil. Muhammad dilahirkan dalam keadaan
serbapelik. la hadir dari keluarga miskin namun cukup terpandang di
masyarakat. Beberapa saat kemudian ibunya juga meninggal dunia dan menjadi anak
yatim sejak usia enam tahun. la mulai bekerja sebagai penggembala kambing di
kota Mekah di dataran bumi yang tandus itu. Mengikuti jejak
tradisi kehidupan orang Quraish, ia pun terjun ke dunia bisnis. Sikap integritas
dan keberhasilannya sebagai pedagang, ia berhasil meraih simpati Khadijah
seorang janda tua, cerdik, lagi kaya. Kemudian ia menikahinya. Muhammad amat terkenal memiliki
sikap kejujuran dan integritas di seluruh kota Mekah dalam semua masalah. Pendapat Ibn Ishaq
mengatakan, "Sebelum turunnya wahyu, orang-orang Quraish telah memberi
label sebagai
satu-satunya orang tepercaya (al-amin).
Datang masa
yang amat tepat
ketika orang Quraish merasa perlu merenovasi Ka'bah. Mereka bekerja sama
di mana setiap anggota suku mengumpulkan batu-batu untuk membangun kembali
sebagian struktur ada. Ketika konstruksi itu sampai pada peletakan batu hitam
(Hajar al-aswad) perselisihan semakin memanas. Setiap sub-kesukuan ingin
mendapat kehormatan meletakkan batu hitam itu pada sudutnya sampai titik
puncaknya mereka membuat aliansi di mana bentrokan fisik semakin tak terelakan.
Abu Umayya, sesepuh di kalangan bangsa Quraish, mendesak agar orang pertama yang
memasuki pintu gerbang tempat suci ditunjuk sebagai juri dan semua dapat
menerima pendapat ini. Orang pertama yang masuk pintu gerbang tidak lain adalah
Muhammad. Ketika orang Quraish melihat, mereka berkomentar, "Kini hadir orang
kepercayaan dan kita semua senang melihat ia bertindak sebagai hakim. Di sini
Muhammad tiba." Ketika ia diberitahukan akan adanya perselisihan, ia meminta
sehelai kain. Kemudian ia mengambil batu hitam itu dan meletakkan di atasnya dan
meminta setiap kepala suku memegang bagian ujung penjuru kain dan mengangkat
bersama-sama. Semua melakukannya dan saat mereka sampai pada titik batu hitam la
(Muhammad) mengangkat dan meletakkannya dengan tangan sendiri. Dengan
penyelesaian perselisihan yang memuaskan semua pihak, konstruksi bangunan
berjalan tanpa ada gangguan yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar